Internet dan Informasi, Jawa Barat –
Video siswa yang menyeberang Sungai sambil membawa sepatunya agar dapat pergi ke sekolah menjadi fenomenal di media sosial.
Keadaan itu memang benar berlangsung di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebab jalan melintasi Sungai menjadi rute paling dekat untuk mencapai tempat belajar.
Akibat dari video yang menjadi viral tersebut, masyarakat pun sibuk mengconstruct sebuah jembatan darurat menggunakan bambu agar dapat dipakai oleh para siswa untuk menyeberangi sungai atau jurang.
Melihat risiko yang muncul apabila para pelajar terus menyeberangi sungai saat banjir, hal ini perlu menjadi perhatian serius.
Setiap hari, mereka berjalan bersama-sama menapaki jalur yang dipenuhi rumput di pinggir sungai.
Setelah itu, mereka menggendong sepatu sambil membawa seragam untuk menyebrangi sungai.
Secara berhati-hati, sekitar selusin siswa mengantri bergiliran untuk tidak jatuh ketika melangkah di atas batu-batu yang tertutup air.
Setibanya di sisi lain, mereka menempatkan diri di pinggir Sungai itu untuk mengikat ulang sepatunya.
Keadaan tersebut menarik perhatian masyarakat yang cemas bila tiba-tiba terjadi banjir di sungai.
Akhirnya mereka berkolaborasi dalam membangun sebuah jembatan darurat menggunakan bahan dasar bambu.
Video tersebut sempat mencapai popularitas besar setelah dibagikan kembali melalui akun Instagram @bogor_update pada hari Jumat, tanggal 18 April 2025.
Terjadi, kejadian tersebut berlangsung di Sungai Cihideung, Kampung Sempur, Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor pada hari Rabu tanggal 16 April 2025 sekitar pukul 06.30 Waktu Indonesia Barat.
Siswa dari Desa Petir dipaksa untuk menyebrangi Sungai demi mencapai sekolah mereka yang berada di Kampung Cihideung, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
Ini dikemukakan oleh Apriani, seorang siswa kelas 7 SMP Adi Bangsa.
“Iya, tiap hari saya menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah dan kembali. Saya belajar di SMP Adi Bangsa yang terletak di Kecamatan Ciampea. Rumah saya berada di Petir ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menyeberangi sungai,” katanya.
Menurut Apriani, melintasi Sungai dapat mempersingkat durasinya dalam perjalanan menuju sekolah.
Karena, apabila melalui jalur kendaraan atau jalan raya akan menjadi lebih jauh.
“Jika melalui rute tersebut akan menjauhkan. Sedangkan jika menggunakan jalan normal, perlu waktu 30 menit,” kata Apriani.
Seorang pelajar lain bernama Rido dari SMP Adi Bangsa menyebutkan bahwa dia setiap hari harus menyebrangi sungai.
Dia bahkan memutuskan untuk mengenakan sandal lebih dulu supaya sepatunya terlindungi dari air di sungai tersebut.
“Jika saya juga menyeberangi sungai setiap harinya. Iya, menggunakan sendal terlebih dahulu dari rumah. Nanti sepatu dipakainya di sekolah,” katanya.
Setelah menyeberang sungai, dia selalu tepat waktu untuk bersekolah.
“Lebih cepat melalui di sini. Jika melewati jalanan utama akan berputar,” katanya.
Penduduk lokal menyatakan bahwa mereka sering kali menjumpai siswa yang menyeberang Sungai pada tiap paginya.
Menurut penduduk setempat, di tempat itu dahulu kala terdapat sebuah jembatan dari kayu.
Tetapi, sekarang telah hancur akibat arus sungai yang kuat ketika banjir.
“Sebelumnya menggunakan jembatan kayu, tetapi sekarang sudah Rusak. Saat ini belum ada penggantinya sehingga para pelajar harus menyeberangi sungai secara langsung,” ujar salah satu penduduk kepada TribunnewsBogor.com di tepi Sungai tersebut.
Seperti halnya para siswa, dia menginginkan adanya sebuah jembatan tetap yang dibangun di sepanjang aliran sungai tersebut.
Tak hanya membantu para pelajar, jembatan tetap ini juga dapat dimanfaatkan oleh penduduk dari dua kecamatan yang berbeda.
“Jika kita membangun jembatan yang bersifat tetap, nantinya bisa dilalui oleh kendaraan juga. Sehingga, penduduk di sana (Cihideung Ciampea) akan dengan mudah pergi ke tempat ini (Sempur Petir). Ini membuat segalanya menjadi lebih praktis,” katanya.
Bekerja sama membangun jembatan sementara
Tindakan para siswa yang dipaksa untuk menyeberangi Sungai tersebut mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.
Wakil Bupati Bogor, Jaro Ade, mengunjungi tempat pembuatan jembatan sementara pada hari Jumat, 18 April 2025.
Jaro Ade menyebut bahwa mereka akan cepat merespons keperluan fasilitas dasar masyarakat dengan secepatnya mendirikan sebuah jembatan yang akan terusik antara Desa Cihideung dan Desa Petir di Kecamatan Dramaga.
“Jaro Ade mengatakan bahwa mereka akan merombak jembatan tradisional di kampung Sempur, desa Petir, gunanya supaya lebih mudah bagi murid-murid sekolah dasar dan menengah pertama untuk mencapai tempat belajar mereka. Selain itu, pembangunan ini juga bertujuan membantu meningkatkan kegiatan ekonomi warga setempat.” Katanya saat berada di Cibinong pada hari Sabtu, 19 April 2025.
Dia pun mengekspresikan penghargaan terhadap warga yang sudah dengan sukarela membuat jembatan sementara menggunakan bahan bamboo.
“Saya secara pribadi menyaksikan antusiasme penduduk setempat; ternyata beberapa figur penting dalam komunitas ini tanpa pamrih menyerahkan lahan mereka demi pembangunan infrastruktur jalan. Fenomena ini sangat memuaskan dan layak mendapat apresiasi,” ungkap Jaro Ade
Akan tetapi, dia menggarisbawahi bahwa jembatan itu hanya sementara dan punya batas ketahanan, terutama pada waktu musim hujan atau kebanjiran.
“Insha Allah, sesudah saya melakukan pengecekan langsung bersama camat, Koramil, Polsek, serta tokoh-tokoh masyarakat, kita akan segera melanjutkannya dengan pembangunan jembatan rawayan,” terangkan Jaro Ade.
Artikel ini sudah dipublikasikan di
Tribunnews.com