Internet dan Informasi
Mengendapkan kebencian biasanya dilakukan sebagian besar orang, terutama ketika ada luka yang mendalam serta menyebabkan kami merasa tak bisa melupakan penderitaan tersebut.
Meskipun besar pun demikian kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, kita tidak dianjurkan untuk membawa rasa benci atau bahkan membiarkannya terus-menerus.
Sebagaimana dikutip dari situs Haloduc pada hari Minggu (20/04), sebuah penelitian dalam Jurnal Sosiologi Psikiatri dan Epidemiologi Kependudukan melaporkan bahwa memendam kebencian bisa membuat seseorang berisiko terkena serangan jantung serta hipertensi.
Bayangkan bila kita mempertahankan luka tersebut terlalu lama, hal ini takkan mengubah apa pun dan justru bisa merugikan diri sendiri. Walaupun sangat sulit dipraktekkan namun usaha tetap perlu dilakukan.
Berdasarkan artikel di halaman Small Business Bonfire pada hari Minggu (20/04), orang-orang yang tidak memendam kebencian sering kali memiliki 7 ciri khas berikut:
1. Merangkul empati
Empati merupakan kekuatan luar biasa bagi mereka. Bukan sekadar soal mengerti sudut pandang pihak lain, tetapi juga terlibat dalam perasaannya. Dengan kemampuan untuk ‘menyatu’ dengan orang lain, hal itu membuatnya dapat menyadari motif dibalik perilaku seseorang, sehingga menjadi lebih ringan hatinya ketika harus memberikan pengertian atau maaf.
Metode empati ini memudahkan mereka dalam aspek kehidupan personal, di lingkungan kerja, serta saat berurusan dengan kondisi atau individu yang menantang.
Orang-orang yang tak memelihara rasa benci sudah mahir dalam seni mendengarkan penuh simpati. Mereka bukan sekadar mendengar, tetapi sungguh-sungguh memahami, dan hal itu lah yang menciptakan perbedaan besar.
2. Berlatih kesadaran
Pengetahuan diri merupakan sifat lain yang umumnya dimiliki individu yang tak memendam kebencian. Mereka fokus pada saat ini daripada merenungi waktu lampau.
Mereka tak memperbolehkan kesalahan di waktu lampau, penderitaan, ataupun ketidakpuasan meredupkan kenangan atau ikatan mereka sekarang. Perubahan sudut pandang itu membantu kita menjernihkan diri dari permasalahannya dulu dan menyongsong kondisi baru dengan pemikiran yang terbuka serta asli.
Psikolog serta pakar kesadaran Jon Kabat-Zinn menyampaikan hal tersebut secara elegan: “Anda tak bisa mencegah gelombang, namun Anda bisa mempelajari cara berlayar di atasnya.”
Singkatnya, kita tak bisa melenyapkan sejarah ataupun memengaruhi perilaku manusia lain, namun kita memiliki kekuatan untuk mendikte bagaimana kita meresponsinya.
3. Penerimaan dan pengertian
Mereka yang tak memegang rasa benci sudah menguasai seni melepas ikatan tersebut. Menerima bukan berarti mundur, ini tidak berarti bahwa mereka setuju dengan kejadian itu atau bahwa semuanya oke-oke saja.
Namun, hal itu hanya berarti menerima keadaan sebenarnya dan menyadari bahwa kita tak bisa merubah masa lalu yang sudah terjadi.
Albert Ellis, seorang psikolog ternama, pernah berpendapat, “Beberapa tahun paling bermakna dalam kehidupanmu adalah ketika kamu berhasil mengatasi tantangan tanpa saling melempar kesalahan pada ibumu, situasimu, apalagi sang presiden. Kemudian baru kau sadari potensi diri untuk mengelola nasibmu sendiri.”
Orang-orang yang tak memelihara rasa benci merasakan hal tersebut. Mereka sadar bahwa menuduh oranglain atau membawa dendama cuma akan menjebak mereka dalam lingkaran buruk.
4. Ketahanan adalah kuncinya
Keuletan merupakan ciri umum bagi mereka yang tak memelihara rasa benci. Mereka sadar bahwa kehidupan dipenuhi dengan hambatan serta kesulitan, namun juga mahir dalam meraih kembali setelah jatuh.
Suatu penelitian pada tahun 2009 yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan keterkaitan erat antara pemaafan dengan kekuatan mental.
Penelitian itu mengungkapkan bahwa orang-orang yang cenderung memberi maaf dan tak menyimpan dendam memiliki kemampuan lebih besar untuk bersikap tegar serta lebih siap dalam menghadapi tekanan dan tantangan hidup.
5. Mereka mengembangkan ikatan yang baik
Mereka membangun ikatan berdasarkan kepercayaan, pemahaman, serta rasa hormat. Menurut psikolog kondang Dr. John Gottman, “Pada hubungan paling kuat, individu memberikan ruang bagi kesalahan pasangan masing-masing dan tak menaruh dendam.”
Peribahasan ini mencerminkan inti dari sebuah hubungan tanpa rasa sakit hati. Saat Anda lepas dari kebencian, Anda dapat lebih mengapresiasi sisi-sisi baik dalam suatu hubungan, dan hal tersebut merupakan fondasi penting untuk membina ikatan yang berarti serta tahan lama.
6. Hubungan mereka dengan emosi marah sangat baik.
Hal ini mungkin bertentangan dengan apa yang kita duga, namun mereka yang tak memendam kebencian cenderung menjalin relasi lebih baik mengenai emosi marah.
Psikolog serta penulis Dr. Harriet Lerner menggambarkannya secara tepat di dalam karyanya yang berjudul ‘The Dance of Anger’: “Rasa marah merupakan suatu cara menuju perubahan saat ia mendorong kita agar semakin mahir memahami diri sendiri dan semakin sedikit campur tangan terhadap orang lain.”
7. Mereka menikmati ketenangan jiwa
Mereka memutuskan untuk mengampuni, bukan karena yakin orang lain layak menerima hal itu, melainkan karena mereka sendiri berhak atas ketenangan jiwa.
Sebagaimana telah disampaikan oleh psikolog kondang Buddha, “Memegang erat rasa marah sama saja dengan minum racun lalu berharap agar oranglain meninggal.”
