
Setiap bayi dilahirkan dengan karakteristik unik masing-masing, bahkan ketika menyangkut keterampilan sosial. Iya benar, Bunda, beberapa anak memang sangat lincah dalam berinteraksi dan gemar bercerita, tetapi ada juga yang lebih suka diam dan agak malu-malu.
Malu itu sesungguhnya normal, terutama pada masa kanak-kanak saat mereka sedang mengenali dunia di sekeliling mereka.
Menurut artikel di Psychology Today, karakteristik anak-anak memiliki potensi untuk bertransformasi dan tumbuh. Ini menunjukkan bahwa cara seorang anak merespons individu lain maupun benda-benda dapat mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Tidak masalah jika ada anak yang agak pendiam. Banyak buah hati memiliki sifat “perlahan beradaptasi”, jadi mereka memerlukan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru.
Ya Moms, biasanya anak-anak akan merasa cemas ketika menghadapi situasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya atau ketika berkenalan dengan orang baru.

Sekali waktu, banyak individu justru mengapresiasi sifat anak yang cepat menyesuaikan diri dibandingkan dengan mereka yang pendiam. Sikap tersebut sebenarnya mampu menciptakan beban serta merusak kepercayaan pada kemampuan sendiri. Akan tetapi, kesopanan tak selamanya negatif. Malahan, hal itu memiliki beberapa nilai positif seperti contohnya:
-Mencapai keunggulan akademis
-Perhatian yang tertuju pada peningkatan ketaatannya terhadap peraturan
-Menjadi pendengar yang baik
Alasan di Balik Sikap Malu pada Anak
Walau tiap situasi mempunyai ciri khasnya sendiri, ada berbagai faktor yang bisa menjelaskan mengapa seorang anak dapat tumbuh dengan sifat pendiam. Beberapa pemicu di balik perilaku malu pada anak adalah sebagai berikut:
-Genetika
Generasi bisa mempengaruhi sifat dan karakter seorang anak.

-Kepribadian
Sebagian orang cenderung lebih peka dan mudah dipengaruhi oleh kondisi di sekitarnya.
-Perilaku yang dipelajari
Seringkali anak-anak mengamati perilaku orang tua mereka untuk belajar bagaimana bersikap. Apabila orang tuanya cenderung pendiam, kemungkinan besar tanpa disadari anak akan meniru karakteristik tersebut.
-Hubungan keluarga
Terkadang, anak-anak yang kurang merasa nyaman di lingkungan keluarga atau bersama orang dewasa sekitar mereka bisa berkembang menjadi pendiam. Orangtua yang sangat overprotektif pun mungkin secara tidak sengaja memberikan perasaan cemas atau ketidaknyamanan kepada sang buah hati.
-Kurangnya interaksi sosial
Anak-anak yang melewatkan interaksi sosial pada tahap awal dan penting dalam tumbuh-kembangnya bisa jadi akan mengalami ketidaksukaan terhadap keramaian.
-Kritik yang keras
Anak-anak yang mengalami ejekan, gangguan, atau kritikan dari orang di sekitarnya lebih mungkin untuk menjadi pendiam.

-Takut gagal
Anak-anak yang mengalami perasaan kegagalan atau sering ditekan untuk melebihi batasan bisa berkembang menjadi anak dengan kurangnya rasa percaya diri serta bersikap tertutup.
Bagaimana Menolong Anak Menghadapi Perasaan Sungkan
1. Jangan sampai menyebutkan gelar canggung pada anak Anda yang pendiam.
Mengklaim bahwa karakteristik pendiam itu negatif atau menganggap ada sesuatu yang tidak beres pada anak pendiam justru akan menyebabkan mereka merasa semakin bersalah.
2. Tunjukkan rasa sayang
Jangan sekali-kali meremehkan atau menyindir seorang anak hanya karena cenderung pendiam. Malahan, upayakan agar memberi tahu sang buah hati bahwa kedua orangtuanya menghargai dan sayang pada mereka sesuai dengan dirinya sendiri.
3. Cobalah untuk mengerti
Bertanya pada anak mengenai perasaan malu mereka. Usahaikan untuk menyelami kekhawatiran atau ketidakpastian mereka terkait dengan eksistensi diri mereka sendiri di hadapan lingkungan sosialnya.
4. Sampaikan pada anak bahwa Anda mengerti perasaannya

Berikan cerita pada anak-anak mengenai momen-momen di mana Anda pernah merasa malu. Diskusikan dengan mereka langkah-langkah yang dapat membuat Anda merasa lebih baik lagi.
5. Jadi contoh yang baik dengan memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam bersikap dan bertindak
Berikan kepada mereka teladan tentang cara menjadi pribadi yang lebih gagah dan yakin diri melalui tindakan sehari-hari, Moms.
6. Ajak anak berkenalan dengan sesuatu yang belum dikenali sebelumnya
Usahakan memperkenalkan berbagai hal dan momen baru kepadanya supaya dapat menjelajahi sesuatu dengan lebih maksimal.
7. Pastikan bahwa anak bisa melakukannya dengan kegiatan yang mereka gemari.
Apabila buah hati Anda bisa terlibat dalam aktivitas yang mereka cintai dan mampu lakukan, maka mereka akan mendapatkan rasa percaya diri yang tinggi. Berilah pujian saat mereka berhasil melakukannya dan berikan kesempatan kepada mereka untuk menjalani kegiatan itu lagi.
Dengan mengambil bagian dalam aktivitas yang disukai, buah hatimu malahan bisa jadi lebih gampang untuk bersosialisasi dengan anak lain yang punya ketertarikan serupa, Bu.
