Bupati
Dalam rentang tahun 2025 hingga 2030 di Bireuen, Haji Mukhlis Takabeya tidak hanya dikenal sebagai seorang pebisnis dan tokoh politik berpengaruh. Ia juga populer karena kemampuannya dalam memasak serta keterampilan huntingnya yang luar biasa. Selain itu, dirinyalah yang sering kali menjadi bagian dari aktivitas sosial warga setempat.
Pada kunjungan ke Gedung Serambi Indonesia, di Meunasah Manyang Pagar Air, Aceh Besar, pada hari Kamis (17/4/2025), Haji Mukhlis Takabeya menceritakan secara rinci mengenai perjalanan hidupnya yang lahir dalam sebuah keluarga sederhana di Bireuen. Dia adalah putra kedelapan dari total dua belas saudara kandungnya. Situasi awal hayat Mukhlis tidak jauh berbeda dengan sebagian besar anak lainnya.
Laki-laki yang dilahirkan di Gampong Alue Krueb, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen pada tanggal 17 April 1972, sejak muda sudah menyukai masakan dan sering berburu bersama kawan-kawannya. Berasal dari keluarga sederhana membuat Mukhlis perlu bekerja ekstra agar bisa mencapai impian-impian yang dia miliki.
Situasi perkembanganannya dari masa kanak-kanak sampai remaja membentuk Haji Mukhlis menjadi figur petarung handal dalam meraih impiannya. Pengalamannya hidup susah sejak dini hingga saat menjadi mahasiswa mengubah Haji Mukhlis menjadi seseorang yang prihatin terhadap kenyataan hidup dan situasi sosial masyarakat, tidak hanya di lingkungan rumahnya saja, melainkan juga di seluruh wilayah Bireuen serta daerah-daerah sekitarnya.
Setelah berhasil sebagai pebisnis, Haji Mukhlis saat ini mengembangkan dirinya di bidang politik. Dukungan tersebut datang dari mantan Bupati Bireuen, almarhum Saifannur, yang notabene adalah saudara laki-lakinya.
Saat ini, figur seorang pebisnis dengan jiwa sosial ini sudah mencapai posisi puncak sebagai kepala daerah teratas di kabupaten Bireuen. Dengan dukungan waktunya, Ir Razuardi, Mukhlis bersikeras merealisasikan visinya dan mengantarkan Bireuen menuju perkembangan yang lebih positif.
Untuk mengetahui langkah-langkah dan program-program yang direncanakan oleh Mukhlis dan Razuardi pada kelima tahun ke depan, Pemimpin Redaksi dari Serambi Indonesia, Zainal Arifin, telah mengundang Mukhlis Takabeya untuk membahas visi pengembangan Bireuen antara 2025 hingga 2032. Diskusi ini berlangsung dalam acara Serambi Spotlight di Studio Internet dan Informasi. Wawancara khusus tersebut kemudian ditayangkan ulang lewat channel YouTube serta halaman Facebook milik Internet dan Informasi beserta dengan platform-media sosial lainnya yang tergabung dalam jaringan Serambi Indonesia Grup.
Bapak Mukhlis, apakah Anda dapat berbagi beberapa detail mengenai latar belakang keluarga Anda serta alasan di balik keputusan untuk menjadi seorang wirausahawan?
Saya mempunyai 13 bersaudara dari dua ibu dan seorang ayah. Dua ibu tersebut adalah istri kedua sang ayah; salah satunya telah wafat dan menghasilkan empat orang anak. Ibu kandungku kemudian menikahi lelaki ini, menciptakan kelompok sembilan lagi. Aku berada di posisi delapan dalam urutan kehadiran keturunan mereka. Sang kepala daerah dahulu, Pak Saifan, merupakan putra tertua yang sudah tiada.
Walaupun punya orang tua berbeda, kami merasakan seperti satu keluarga besar tanpa adanya perbedaan. Sebab keempat sepupu tersebut sangat muda ketika ibunya mereka meninggal dunia?
Setelah itu, pada usia 3 tahun, sang bapak dari saya meninggal dunia. Ketika kepergian ayah tersebut, kondisi keluarga kami menjadi sangat miskin di desa setempat. Kemudian selama masa tanam padi tiba, semua anggota keluarga berpartisipasi dalam penanaman padi di ladang. Namun sewaktu semua keluarga dan kerabat pergi ke sawah, hanya tinggal saya sendiri yang tetap di rumah karena sejak kecil tubuhku kurang dapat bertahan dengan paparan sinar matahari langsung.
Saat itu aku diberikan dua pilihan: mencangkul atau memasak. Aku memutuskan untuk memasak agar tak perlu berhadapan langsung dengan panas sinar matahari. Sehingga setelah menyiapkan makanan, termasuk memasak nasi serta menggoreng ikan dan hal lainnya, semuanya telah tersedia ketika ibuku bersama keluarga tiba dari ladang menjelang waktu salat Magrib. Di era perkuliahan dimana penghasilan sangatlah terbatas, kehidupanku pun sama seperti itu dan kami tetap memasak sendiri di asrama. Dengan sering melakukan aktivitas tersebut lama-kelamaan membuat ku tertarik pada dunia memasak. Hingga saat ini jika melihat wajan besar, pastilah kita akan mulai memasak lagi. Memasak bagi ku bukan hanya sekedar menyediakan makanan untuk diriku sendiri, namun rasa senang selalu datang ketika teman-teman merasakan hasil masaku. Ketika mereka mencoba apa saja yang kukreasikan dalam dapur, rasanya sungguh membanggakan bagiku.
Di samping masak, saya juga gemar berburu. Sebagai penduduk desa yang menetap di daerah perbukitan, dulu kami menggunakan slingshot, jebakan burung, serta mengincar rusa dan mencari babi dengan cara melacaknya. Setelah itu, saat mendapatkan pneumatic gun, aku mulai memburu tupai dan menjelajahi alam menjadi kesukaanku. Saat telah bekerja sebagai Direktur Takabeya dan bergabung dalam grup Perbakit, tiap kali acara berburu datang, saya selalu ambil bagian. Bahkan, kita pun mendaftar agar bisa memiliki lisensi senjata api untuk tujuan berburu, dan hingga sekarang hobiku tak terkikis waktu.
Apa kisahnya memasuki dunia bisnis?
Saya belajar di Departemen Teknik Sipil di Politeknik Lhokseumawe (dulu bernama Politeknik Unsyiah). Inspirasi nama Takabeya muncul ketika saya masih menempuh pendidikan tersebut. Awalnya, Takabeya Perkasa mendapat inspirasi dari mata pelajaran Mekanika Teknik di kampus dengan penerapan metode Takabeya. Metode ini berasal dari seorang penemu asal Jepang yang namanya adalah Takabeya. Menggunakan metodologi ini dalam perhitungan struktur memberi kesan luar biasa karena satu soal dapat memerlukan hingga 15 halaman jawaban dan hasil akhirnya selalu sangat rapi.
Saya termotivasi untuk mendirikan sebuah perusahaan bernama Takabeya yang dimulai sebagai CV Takabeya Perkasa Group pada tahun 2000. Pada saat yang sama pula, saya memasuki dunia konstruksi; saudara laki-laki saya (Saifan), seorang kontraktor profesional, telah menjalani bisnis tersebut. Fokus utama saya ada di bidang rekayasa dan saya bertindak sebagai manager disana. Berkat rahmat Allah SWT, hingga tahun 2005 kami meluncurkan versi perseroannya sendiri yakni PT Takabeya Perkasa Group. Kami memiliki beberapa entitas usaha dibawah naungan Takabeya. Syukurlah lagi jumlah staf kami telah meningkat menjadi lebih dari 300 orang yang tetap setia melayani di Takabeya hingga hari ini.
Walaupun sekarang saya mulai perlahan meninggalkan bisnis untuk diserahkan kepada generasi muda dan tidak ikut campur secara langsung, semoga harapan saya pada anak-anak adalah agar mereka dapat melanjutkannya dengan baik, berkembang pesat, serta menjaga para karyawan tanpa harus di-PHK. Ini semua karena pertimbangan sisi sosial; bagaimanapun juga mereka mempunyai kesamaan dengan kita sendiri, dan jika tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaan, hal tersebut bisa membuat hidup mereka menjadi tak tentu arah. Itulah pemikiran saya tentang masalah ini.
Apa alasan utama yang membuat Anda memasuki bidang politik?
Sejujurnya, saya berasal dari bidang konstruksi. Sifat dasar saya adalah memiliki komitmen yang sangat kuat dan akan berlaku demikian hingga akhir hayat. Jadi ketika kami mengatakan sesuatu seperti ‘A’, maka tindakan tersebut wajib dikerjakan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri saat masuk ke ranah politik karena sistemnya jauh berbeda dibandingkan dengan lingkungan bisnis. Konflik muncul antara prinsip-prinsip moral hati nurani saya dan realitas lapangan. Meskipun begitu, tanpa memandang suka atau tidak, perlu dicoba untuk membawa cara kerja ala konstruksi kedalam dunia politik, walau kadang menimbulkan beberapa gesekan dengan teman-teman satu tim.
Ketika membuat komitmen kepada publik, kita perlu memenuhi janji tersebut sesuai kesepakatan. Saya terjun ke dunia politik saat Almarhum Saifan, yang juga Ketua Partai Golkar Bireuen, merencanakan pencalonannya sebagai bupati. Pada waktu itu, meskipun awalnya ragu dan ingin menolak, ia berkata bahwa dirinya tak akan bertanding apabila bukan saya yang dipilih sebagai kepala tim kampanyen.
Sebab pada waktu itu kontraktor harus memilih antara pendukung pasangan calon yang satu dengan yang lainnya. Pengusaha pun demikian, mereka perlu merasa semuanya tenang. Oleh karena itu, Bang Saifan masih berharap kepada saya. Kami bertemu di kediamannya. Saya katakan kepadanya bahwa sebaiknya tidak usah menjadikan saya sebagai ketua tim; malahan saya menyarankan sepupuku agar dipercayai dalam posisi tersebut. Ini dilakukan supaya saya bisa menjaga hubungan baik pula dengan pasangan calon lainnya.
Menurutnya, jika saya enggan menjadi ketua tim pemenangannya, dia tidak akan mencalonkan diri sebagai bupati untuk periode 2017-2022. Untuk mempertimbangkan nasib keluarga, saya harus berjuang dengan keras untuk menjaganya. Syukurlah usaha itu sukses, dan keponakanku pun lolos dalam pemilihan DPR Aceh (DPRA) serta berhasil menang. Kami memiliki tim yang sangat kompak di lapangan, dan syukurnya Bang Saifan terpilih menjadi bupati sementara keponakanku dewan di DPRA.
Apa yang mendasari keputusan Anda untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Bireuen untuk masa jabatan tahun 2025 sampai 2030?
Bila mengacu pada kalender pemilihan umum semula ditetapkan pada tahun 2022 tetapi akhirnya digeser menjadi tahun 2024 bagi pelaksanaannya secara bersama-sama. Setelah Pak Saifan berhasil memenangkan pertarungan itu, awalnya pikiran saya belum terfokus pada niat untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Syukuri atas limpahan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, telah banyak kegiatan sosial yang dapat kami selenggarakan dalam rangka membantu masyarakat sekitar. Kegiatan ini bukankah hanya dilakukan di wilayah Bireuen saja melainkan juga sampai ke tempat-tempat lain seperti Aceh Utara, Lhokseumawe serta beberapa kabupaten lainnya. Salah satu bentuk nyata dukungan tersebut adalah dengan turut serta dalam proses pendirian masjid demi mendukung upaya peningkatan fasilitas ibadah warga setempat di Aceh Utara.
Yang telah kulakukan ini sama sekali tak bertujuan untuk mencari popularitas. Bagiku, begitu sudah terlibat dalam suatu usaha, maka harus ikhlas tanpa memikirkan imbalannya. Misalnya seperti pembuatan jalan menuju pesantren; proyek tersebut memiliki anggaran hingga puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Uangku sendiri digunakan sepenuhnya demi penyelesaian pekerjaan ini karena prioritas utamaku adalah memberikan akses jalanan yang baik kepada anak-anak ketika hendak belajar di tempat ibadah dan pendidikan mereka. Aku tidak peduli apakah mereka akan memilihku sebagai wujud penghargaan atas apa yang kami kerjakan bersama. Terkadang orang-orang yang dulunya dibantu malahan enggan merespons dukungan ini dengan cara memilih kita pada pemilihan umum selanjutnya. Namun hal semacam itu bukanlah tujuan aku bekerja keras sejak awal.
Sampai sekarang, aku memiliki ambulans yang masih aktif digunakan untuk transportasi mayat maupun pasien menuju rumah sakit. Biaya pembelian tersebut sepenuhnya dari kantongku sendiri dan tak terkait dengan partai politik mana pun. Aku membelinya hanya karena berniat untuk menolong sesama. Terkadang, kami melihat beberapa individu yang belum sempat mendapatkan perawatan medis saat meninggal. Aku berharap meski bantuan itu sangat kecil, setidaknya dapat memberikan faedah bagi warga masyarakat.
Alhamdulillah hari ini kita telah dipercaya sebagai bupati. Akan tetapi, tantangan utama yang hadir ialah mengenai peningkatan efisiensi anggaran. Fenomena serupa juga dialami oleh semua kabupaten atau kotamadya lainnya. Lebih-lebih lagi bagi daerah kita Bireuen, dimana Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung rendah, ditambah dengan kebijakan efisiensi anggaran semakin menyempitkan ruang gerak dalam menggunakan dana pemerintah untuk mendukung warga setia, misalkan melalui pembangunan infrastuktur serta jalanan. Ditambah lagi menjelang bulan Desember ketika musim hujan tiba, kondisi jalan akan rusak parah karena berubah menjadi genangan air, hal tersebutlah yang menjadi keprihatinan kami.
Terkadang cara pandang warga tak mempertimbangkan situasi keuangan pemerintah. Mereka masih mengharapkan perbaikan jalanan, dan sebagian punya ide aneh seperti menanami sawah atau batang pisang di jalan tersebut. Inilah gambarannya bagaimana kondisinya saat ini. Kami merenung tentang langkah apa yang bisa kami ambil agar skenario semacam itu tidak lagi terulang.
Apakah ada prioritas tertentu bagi Anda terkait pengembangan Bireuen di masa depan dekat, sedang, dan jauh?
Dalam waktu dekat, sepertinya kami sedang berupaya mereformasi sistem administratif pemerintahan. Ini juga melibatkan penanganan masalah seperti bencana alam dengan cepat. Kami saat ini sering melakukan inspeksi mendadak guna meningkatkan kualitas manajemen internal. Hal ini karena sebelumnya telah diabaikan cukup lama oleh pemerintah yang bertugas. Tidak ada kesalahan dalam situasi ini. Motivasi pejabat publik tentunya merosot akibat kurang adanya pengawasan atau hambatan. Oleh karena itu, kami berusaha hari ini untuk membetulkan apa saja yang dapat diperbaiki; semoga kedepannya baik secara singkat maupun jauh ke masa depan akan lebih positif.
Mengapa Anda melakukan inspeksi mendadak ke puskesmas kemarin?
Hal ini merupakan hasil dari keinginanku yang tak pernah padam untuk berinovasi karena sifatku yang sulit tenang. Setiap kali menjadi seorang pemimpin, tekad sukses selalu hadir dalam diriku. Namun, jika melihat kondisi saat ini, banyak instansi pemerintahan masih didera sikap pasrah dan kurang proaktif; mereka enggan menunjukkan kemalasan namun juga tidak tertarik pada peningkatan produktivitas atau pencapaian prestasi. Akhirnya, organisasi-organisasi tersebut hanya bertahan tanpa memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan lebih lanjut.
Hari ini kami melangkah maju dan perlu meningkatkan semangat. Kami mendukung serta membantu apapun yang mereka inginkan untuk dilaksanakan. Bisa jadi sebelumnya para teman-teman di pemerintahan merasa bimbang, bertanya-tanya mengapa harus bekerja keras ketika tak ada dorongan datang dari atasan. Namun saat ini kami turut ambil bagian meskipun dana terbatas. Tidak boleh ada rasa menyerah. Harapan besar agar bisa bangkit dengan tekad kuat dalam melakukan pekerjaan, sehingga mungkin saja segala masalah dapat terselesaikan.
Terkait investasi di Bireuen, bidang-bidang mana sajakah yang akan dituju?
Apabila membahas tentang investasi saat ini, tidak hanya Bireuen yang mengalami kendala. Seluruh wilayah Aceh juga bisa jadi kurang menarik bagi para investor. Hal itu membuatnya susah untuk mendapatkan minat dari pelaku usaha, akibatnya kita belum memiliki sektor industri dan hal tersebut menjadi permasalahan. Oleh karena itu, pemerintah daerah sungguh bergantung pada dukungan dari pemerintah pusat melalui program Otsus serta Dana Alokasi Khusus (DAK). Kami bahkan cemas apabila program Otsus akan berakhir tahun 2027 nanti.
Di Bireuen, kami memiliki prinsip bahwa pembicaraan tentang industri hampir tidak pernah muncul. Meskipun demikian, kami masih mencobanya. Sebelumnya, tak terdapat pabrik skala besar di daerah tersebut. Namun, saat ini proyek untuk membangun pabrik CPO PKS sedang dimulai dan sebagian telah beroperasi. Misalnya, Haji Subar dan Bang Lukman sudah mengawali pendirian pabrikiannya di Bireuen.
Meskipun demikian, Bang Lukman tengah menyiapkan area untuk mendirikan sebuah pabrik pengolahan yang akan mengolah produk minyak goreng dan sabun berbahan dasar CPO tersebut. Kami siap membantu beliau meski beliau adalah seorang investor dalam negeri.
Hari ini saya mulai mengoperasikan PKS, semoga kita dapat memulai produksinya di akhir tahun. Kami berharap hal ini akan menciptakan lapangan pekerjaan baru serta membantu dalam pengurangan tingkat kemiskinan. Saat ini, terdapat beberapa pertanyaan dari para investor asing tentang keselamatan ketika datang ke Aceh meskipun situasi sebenarnya adalah bahwa daerah tersebut telah lama damai. Hal ini tentunya menjadi hambatan bagi investasi mereka, karena rasa khawatir yang belum terselesaikan.
Kami berharap Bireuen akan memiliki sebuah pabrik pengolahan kilang (refinery) untuk memproduksi berbagai macam produk dari CPO. Saat ini, kami hanya memiliki satu pabrik CPO dengan hasil utama diekspor ke Medan. Jika proyek kilang olah ini sukses terwujud, seluruh produksi CPO di Aceh dapat dialihkan kesana, sehingga harga jualnya menjadi lebih kompetitif. Ini tentu merupakan kabar fantastis bagi Aceh sebab nantinya kita bakal memiliki industri rumah tangga seperti pabrik minyak sayuran, mentega, serta aneka produk lainnya.
Mari kita berdoa agar Bang Lukman sungguh-sungguh dalam mendirikan pabrik tersebut. Kami bertujuan untuk membuat prosesnya lebih mudah di semua aspek, seperti peraturan dan lain-lain. Ini akan memberi manfaat besar bagi generasi setelah kita. Prioritas kami adalah para investor lokal. Selanjutnya, kami juga fokus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari seluruh sisi. Mudah-mudahan kedepannya, PAD kita semakin besar sehingga kita tidak bergantung sepenuhnya pada dana yang datang dari pusat. Walaupun ada pengurangan anggaran, kami yakin situasinya masih bisa dikendalikan.
Akhirnya, apa pesan serta aspirasi Anda bagi warga Bireuen, pemerintahan Propinsi Aceh beserta dengan pemerintah nasional, demi kemajuan Bireuen di masa depan?
Oleh karena itu, mari kita mengharapkannya pada warga Bireuen yang telah memberi dukungan kepada kami serta seluruh pihak terkait. Pemilihan Kepala Daerah sudah usai. Ayo berikan dukungan Anda kepada saya sehingga bersama-sama dapat membangun Bireuin menuju masa depan yang lebih cemerlang. Semoga hal ini akan menjadi manfaat bagi kita semua dan juga bagi generasi di kemudian hari.
iw
)