Press "Enter" to skip to content

Kevin Wu Investigasi Apartemen Kosong di Penjaringan: Tidak Layak Huni, Pengembang Hindari Pertemuan

admina 0


Laporan Jurnalis News IT, Gerald Leonardo Agustino


News IT, PENJARINGAN –

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, melaksanakan sidak ke Apartemen Pluit Sea View yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara pada hari Jumat tanggal 23 Mei 2025.

Langkah ini merupakan hasil dari keluhan yang diajukan oleh beberapa pemilik properti di area tersebut yang belum juga mendapatkan unitnya walaupun sudah melakukan pembayaran untuk Apartmen itu.

“Saya menerima keluhan dari beberapa pemilik apartemen Pluit Sea View, terutama yang berada di Tower Ibiza, tentang fakta bahwa proyek ini telah lama dikembangkan namun hingga saat ini penyerahan masih belum dilakukan,” jelas Kevin Wu di tempat kejadian pada Jumat sore.

Berdasarkan laporan yang diterima Kevin, penyerahan unit Apartemen kepada pembeli dari developer seharusnya sudah diselesaikan sejak tahun 2016.

Meskipun demikian, tanpa penjelasan yang memadai, sampai saat ini puluhan pemilik unit Apartemen tersebut masih belum mendapatkan Berita Acara Serah Terima (BAST) dari pihak developer.

“Berdasarkan hal itu, hampir mencapai 8 sampai 9 tahun sejak kejadian tertunda. Ini menunjukkan adanya ketertinggalan dari jadwal yang telah ditentukan. Oleh karena keterlambatan serta kelalaian atau kemunduran janji tersebut, kesabaran penduduk sudah mencapai titik maksimum. Akhirnya, mereka memilih untuk mengajukan permintaan pengembalian uang,” ungkap Kevin.

Selama proses tersebut, Kevin Wu dihadapan oleh wakil pemilik serta penasihat hukum mereka yang mewakili 24 pemilik properti mencoba bertemu dengan developer Apartemen Pluit Sea View pada hari Jumat petang.

Akan tetapi, karena tidak adanya jadwal pertemuan yang telah disepakati sebelumnya, para developer apartemen menolak untuk hadir dalam kunjungan dari anggota dewan pada sore hari tersebut.

Akhirnya, Kevin Wu dan wakil pemilik unit hanya bertemu dengan manajer apartemen, mereka mengaku beroperasi di bawah sebuah perusahaan yang terpisah dari sang developer.

“Kepada Anda hari ini, saya berniat untuk segera pergi ke lokasi dan melihat situasinya secara langsung. Oleh karena itu, kesempatan bertemu dengan para pembuat proyek atau pun penjaga tempat tersebut sangat diharapkan agar dapat memperoleh data yang adil,” jelas Kevin.

Namun, apa yang saya temukan adalah bahwa pihak pengembang enggan bertemu karena sebenarnya tak ada jadwal pertemuan, dan pihak manajemen pun hanya menyediakaninformasi terbatas,” tambahnya.

Rapat yang tidak menghasilkan apa-apa itu pada akhirnya direncanakan kembali beberapa hari lagi.

Kevin kemudian mendorong manajer agar menginformasikan hal itu kepada developer perumahan bertingkat supaya dapat merancang pertemuan tersebut, sebab para pemegang properti ini telah berkali-kali gagal mendapatkan penjelasan tentang satuan tempat tinggal yang sudah dibeli tapi belum diselesaikan serah-terimaannya.

Pada kesempatan tersebut pula, Kevin memeriksa situasi dari salah satu menara apartemen yang terbengkalai di sekitar lokasi itu.

Berdasarkan tinjauan tersebut, diketahui juga adanya tuduhan yang menyebutkan bahwa pembangunan apartemen tidak rampung ini telah menciptakan tantangan baru bagi sekitar area atau lingkungan setempat.

“Pemandangan perjalanan yang kami amati menunjukkan adanya pengurangan pada permukaan tanah, bahkan hingga ke titik yang lumayan tinggi. Saya melihat beberapa tempat di mana turunannya mencapai lebih dari satu meter. Ini adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat dan penting bagi mereka untuk memastikan kualitas pembangunan semacam ini dapat dipertimbangkan dengan baik,” katanya.

Para pengacara yang mewakili pemilik Apartemen Willy dari Klinik Hukum Suvarna, mengatakan bahwa mereka sedang berupaya untuk melakukan dialog aktif dengan para penghuni yang terpengaruh. Mereka bertujuan menemukan langkah nyata dalam merespons penundaan proses penyerahan properti tersebut.

“Kami tengah bekerja sama dengan masyarakat untuk menemukan solusi, dimana mereka menginginkan dana tersebut bisa dikembalikan. Setelah itu, kita akan menyelidiki alasan-alasan yang membuat pembangunan gedung belum bisa dilakukan hingga kini dan juga penyebab ketidakterlaksanaannya proses serah terima,” ungkap Willy.

Dia menyebutkan bahwa tim mereka juga sedang menganalisis segi hukum dari kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran beberapa pasal dalam peraturan perundangan yang dilakukan oleh para developer apartemen tersebut.

Merespons pertanyaan tentang langkah-langkah hukum yang sudah diambil sebelum dia menjadi pengacara, Willy menyatakan bahwa beberapa penduduk telah memilih jalan proses hukum perdata.

Oleh karena itu, mereka menginginkan bahwa masalah tersebut bisa ditangani melalui sesi Rencana Diskusi Perdana (RDP) yang akan diselenggarakan oleh DPRD DKI Jakarta.

Berdasarkan data yang diberikan oleh para warga yang telah memberikan mandat kepadaku, terdapat 24 individu yang sebelumnya sudah mengajukan gugatan di bidang hukum perdata. Namun sayangnya, hingga kini tak ada tanggapan maupun penanganan lebih lanjut atas kasus tersebut,” jelas Willy.

“Diharapkannya, kita bertemu dalam sesi RDP sehingga seluruh pihak, termasuk para pembuat proyek, pemegang tanggung jawab, serta masyarakat umum, dapat berkumpul bersama untuk menguraikan masalah ini secara rinci,” ungkapnya.

Hakim lain, Septeven Huang mengatakan, masalah tersebut sebelumnya sudah dibahas dalam pertemuan Rapat Kerja Tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh DPR RI.

Instansi tersebut telah menyampaikan beberapa surat resmi kepada sejumlah kementerian yang bersangkutan, guna melaporkan serta menanyakan langkah-langkah selanjutnya berkaitan dengan beragam masalah konstruksi dan lingkungan dalam kompleks perumahan Apartemen itu.

“Seperti yang baru saja saya kutip dari beliau Kevin Dewan, hal ini berkaitan dengan kebutuhan dasar penduduk luas. Tidak hanya para pemegang otoritas, tetapi juga ratusan atau bisa jadi ribuan individu yang bermukim di gedung-gedung seperti Maldives dan Tower Ibiza,” paparnya.

Tujuh orang menilai bahwa selain masalah pengiriman unitnya, kondisi fisik apartemen yang mengalami penurunan tanah dengan signifikan juga merupakan ancaman serius.

Mengenai jumlah kehilangan yang ditanggung, Septeven mengatakan bahwa nilainya beragam.

Tentu saja, hal ini bukanlah kerugian yang sedikit. Selain itu, dikabarkan penjualanunit tetap terus berlangsung meskipun permasalahan lama belum terselesaikan,” tutup Septeven.

(TribunJakarta)

Akses News ITdi

Google News

atau WhatsApp Channel

https://whatsapp.com/channel/0029VaS7FULG8l5BWvKXDa0f
.

Pastikan Tribunners telah menginstal aplikasi WhatsApp ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *