WESTPORT, News IT—
Nathan Cohen, yang dikenal sebagai “manusia tanpa negara”, adalah seorang pemuda tersesat yang berpindah-pindah antar negeri-negeri tetapi tidak disambut di manapun.
Dia akhirnya meninggal dunia dalam kesendirian di Westport, Connecticut, Amerika Serikat (AS), pada tahun 1916, saat berusia 37 tahun.
Dikutip dari
CT Insider
, Sabtu (24/5/2025), cerita tentang Cohen Hampir saja dilupakan sampai tahun 2019, ketika Lori Gandini, pegawai yang mencatat kematian di Kantor Catatan Sipil Westport, secara tidak sengaja menemukan bukti kematian Cohen saat mengurutkan kembali dokumen lama.
Di situ disebutkan bahwa Cohen merupakan “seorang yang tidak memiliki negara” atau “pria tanpa negara.”
Hasilnya mendorong investigasi oleh para sejarawan di Westport Museum for History and Culture, yang menyingkap kehidupan yang rumit milik Cohen—diisi dengan pengkhianatan, deportasi, dan penolakan.
Pembukaan petualangan: Mulai dari Rusia hingga Amerika
Cohen dilahirkan pada tahun 1878 di sebuah desa kecil bernama Bausk, yang saat ini termasuk dalam wilayah Latvia namun dulu adalah bagian dari Rusia. Tempat itu pernah menjadi tempat tinggal bagi masyarakat Yahudi sebelum terjadinya Revolusi Rusia tahun 1905.
Dia pernah tinggal di Brazil, kemudian berpindah ke Amerika Serikat pada bulan Mei tahun 1912 menggunakan uang senilai $5.000 (kira-kira setara dengan Rp 81 juta saat ini) serta membawa harapan untuk membangun kehidupan yang baru.
Pada saat tersebut, Cohen membeli karcis perjalanan laut senilai 45 dolar AS (setara dengan Rp 731.070) dari Rio de Janeiro menuju New York.
Setibanya di Amerika Serikat, Cohen pergi ke Virginia guna mendirikan usaha ritel kecil bersama keluarga.
Akan tetapi, nasib sial menimpanya. Usahanya gulung tikar, istriya diculik oleh kawannya sendiri, kemudian dia terjebak dalam kemiskinan dan masalah jiwa.
Dinilai gila dan dideportasi
Tahun 1914, pihak berwenang Virginia menyatakan Cohen “gila” dan mengirimkannya ke Rumah Sakit Jiwa di Baltimore.
Mereka enggan membayar biaya perawatannya dan menyerahkan hal tersebut kepada Dinas Imigrasi di New York.
Mengklaim bahwa Cohen sudah “gila” sejak awal datang ke Amerika Serikat, pemerintahan tersebut memilih untuk mendeporkasinya ke Brazil sesuai dengan Undang-Undang Alien Act 1798. Aturan ini mengizinkan pengusiran warga asing yang dianggap sebagai beban bagi negeri tujuan selama tiga tahun setelah kedatangan mereka.
Akan tetapi, usaha untuk mendepartirinya tersebut tidak berhasil. Brazil menolak Cohen lantaran dia bukan warganegaranya. Argentina pun ragu-ragu untuk memilikinya.
Malahan, AS pun tak membolehkannya untuk kembali. Dalam satu tahun, Cohen ‘bergerak-gerak’ di lautan, berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain yang semua tertutup pintunya.
Diizinkan kembali ke AS
Pada tanggal 18 April 1915, tak lama setelah kapal yang ditumpanginya berlayar menuju Brazil untuk kali ke empat, John B Densmore, pelaksana tugas sementara sebagai Menteri Tenaga Kerja Amerika Serikat, secara resmi memperbolehkan Cohen kembali ke negara tersebut.
Putusan tersebut disebabkan oleh peran hakim purnawirawan Leon Sanders dan organisasi Yahudi, Hebrew Sheltering and Guardian Society, yang mengungkapkan bahwa masalah kesehatan mental Cohen hanya timbul sesudah ia menetap di Amerika Serikat, tidak sebelumnya.
Mereka memastikan kehadiran Cohen melalui deposit sebesar 500 dolar AS (kira-kira Rp 8 juta) untuk mencegahnya menjadi beban bagi negara.
Setelah itu, Cohen dirawat di Rumah Sakit Ellis Island dan kemudian dipindahkan ke Sanatorium McFarland di Green’s Farms, tempat dia meninggal dunia pada tanggal 3 Maret 1916.
Pemakaman tersebut ditangani oleh Société Libre Hébraïque di Staten Island, New York.
Sekarang, karena temuan tak disengajka dan kerja keras para sejarawan, cerita Cohen akhirnya tidak lagi tenggelam dalam lupa.
