Internet dan Informasi
– Di kehidupan sehari-hari, tentunya kita sering kali menemui individu yang nampak amat suka menyampaikan masukan, baik itu untuk kolega di tempat kerja, anggota keluarga, atau bahkan seseorang yang baru saja ditemui.
Mereka dapat dengan cepat mengidentifikasi kekeliruan pada orang lain, tetapi anehnya, saat dirinya mendapat umpan balik atau kritikan, mereka jadi terlihat sensitif, emosional, atau malah menjadi sangat bertahanan.
Orang-orang semacam itu biasanya tak sadar kalau pola perilaku mereka malah menjauhkan hubungan sosial, memicu ketidaknyamanan, dan menghasilkan kesenjangan dengan lingkungannya.
Phenomenon ini bukannya sesuatu yang asing, sebab kelihatannya mereka lebih condong pada pola perilaku dan karakter khusus.
Menurut artikel di Blog Herald pada tanggal 20 April, ini adalah tujuh karakteristik orang yang gemar memberikan kritik namun enggan menerima kritik.
1. Menghindari introspeksi diri
Seseorang yang gemar menyalahkan dan mencela orang lain namun tak dapat mentolerir masukan tentang dirinya sendiri biasanya kesulitan untuk berintrospeksi ataupun memahami sisi internalnya.
Orang-orang tersebut biasanya hanya memperhatikan kesalahan oranglain sementara mengabaikan kelainan mereka sendiri. Hal ini kerapkali dijadikan metode bagi mereka untuk membentengi dirinya dari perasaan malu ataupun ketidakpastian yang mungkin dialami.
Dengan memperlihatkan ketidaksempurnaan oranglain, mereka merasa superior terhadap dirinya sendiri, padahal sesungguhnya mereka berusaha untuk mengelak fakta bahwa tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tanpa cela, bahkan diri mereka sendiri.
Sebenarnya, apabila seseorang bersedia untuk terus-terusan jujur serta memiliki keberanian untuk merenungkan diri sendiri, maka orang tersebut dapat mempelajari hal-hal baru dan berkembang menjadi individu yang lebih unggul.
2. Ingin mengendalikan segalanya
Mengomentari sesuatu biasanya berasal dari keinginan untuk memegang kendali atas semua aspek. Individu semacam itu akan merasa lebih damai ketika mampu menentukan tindakan dan pemikiran orang lain, mulai dari pendekatan mereka dalam berfikir sampai dengan bagaimana mereka bertindak.
Mereka berpendapat harus memberi komentar tentang semua hal supaya bisa merasakan kontrol atas dunia di sekelilingnya.
Akan tetapi, disayangkan saja, metode tersebut kerap menghasilkan perselisihan dan tensi, sebab bukan semua individu bersedia untuk diatur. Mereka cenderung melupakan fakta bahwa tiap orang memiliki pola hidup serta pilihan mereka sendiri-sendiri.
Apabila seseorang sangat berkeinginan untuk mengendalikan orang lain melalui kritik, hal tersebut sebenarnya mencerminkan bahwa dia belum dapat menerima ketidaktentuan kehidupan serta kurangnya keyakinan pada cara orang lain mengatasi tantangan hidup.
3. Mengalami kekurangan dalam hal keyakinan diri
Seseorang yang gemar memberikan kritikan ternyata belum tentu memiliki kepercayaan diri. Sebaliknya, pada berbagai kesempatan, mereka justru mungkin merasakan ketidakpastian dan kurangnya keyakinan terhadap kapabilitas pribadinya.
Untuk menghindari kesan lemah, mereka berupaya mendiskreditkan orang lain dengan ucapan. Dengan membuang tanggung jawab kepada pihak lain, mereka seolah-olah merasa memiliki kedudukan yang lebih superior atau pandangan yang lebih tepat.
Akan tetapi, hal-hal tersebut hanyalah cara bertahan yang tidak sehat. Kepercayaan diri sesungguhnya berasal dari menerima diri sendiri seperti apa adanya serta dapat mengakui bahwa setiap orang, termasuk diri kita, tentunya memiliki kekurangan.
Meninggikan diri sendiri dengan merendahkan oranglain takakan jadi metode tepat dalam membentuk rasa percaya diri yang positif.
4. Kesulitan untuk mengendalikan kenangan masa lalu
Banyak individu yang gemar menyalahkan pihak lain ternyata juga merasakan kesulitan dalam melupakan kesalahan atau kenangan tidak menyenangkan dari masa lalu. Mereka kerap kali membongkar kembali kekeliruan orang tersebut meskipun sudah bertahun-tahun telah berjalan.
Ini mengakibatkan individu yang dikritik selalu merasa bersalah dan tak pernah lepas dari rasa tertekan. Pendekatan semacam itu dapat menjadikan iklim hubungan kaku serta dipenuhi stres.
Sebenarnya, semua orang tentu sudah pernah melakukan kesalahan, dan hal utamanya adalah mempelajari pelajaran daripada kesalahan tersebut, bukannya selalu dicerca.
Apabila seseorang tak dapat meninggalkan kenangan dari waktu lampau, bukan saja pihak lain yang dirugikan tapi juga perkembangan serta kenyamanannya terbatas. Melepas ikatan dengan masa silam akan membuat jalan untuk interaksi yang lebih baik dan tenang.
5. Yang mereka katakan tidak dijalani oleh mereka
Fitur terpenting dari individu yang gemar memberikan kritik namun enggan menerima masukan adalah kurangnya kekonsistensian. Mereka selalu meminta oranglain agar bertindak tanpa cela, tetapi ketika dirinya sendiri membuat kesalahan serupa, dia justru mencari-cari dalih.
Perbuatan mereka menjadikan mereka tampak munafik. Mereka bersikap tidak adil sebab hanya fokus pada kekeliruan orang lain tanpa mau mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahan sendiri.
Hal ini menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya dan menjadi figur yang kurang dapat diteladani.
Apabila seseorang menginginkan rasa hormat, dia perlu dapat menegakkan nilai-nilai tersebut pada dirinya sendiri, tidak hanya kepada pihak lain. Perlakuannya yang adil baik terhadap dirinya maupun orang lain menjadi fondasi bagi pertalian yang positif serta tulus.
6. Kurang memiliki empati
Kemampuan empati melibatkan pemahaman dan perasaan terhadap pengalaman orang lain. Namun, mereka yang gemar memberikan kritikan cenderung kurang memiliki kekuatan tersebut.
Mereka dapat secara tajam mengkritik kesalahan orang lain, namun ketika orang lain berusaha memberikan saran kepada mereka, malah timbul kemarahan atau perasaan terserang.
Mereka tak menyadari kalau perkataan mereka dapat menimbulkan luka serta membuat seseorang merasa dilemahkan.
Karena tak mampu mengalami kesedihan atau perspektif oranglain, mereka jadi individu yang susah didekati dan condong membuat ikatan interpersonal bermasalah.
Jenis orang seperti itu biasanya menyebabkan yang lain merasa tidak enak dan kurang berharga akibat selalu dituduh.
7. Sulit menerima perubahan
Perubahan merupakan elemen tak terpisahkan dari kehidupan, namun bukan berarti setiap individu dapat meresponsinya dengan baik. Kebanyakan orang yang senang memberikan kritik cenderung memakai pendekatan tersebut sebagai sarana untuk menentang atau menjauhkan diri dari perubahan.
Meraka merasa canggung ketika menghadapi sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya. Agar tetap merasa dominan, mereka cenderung menyudutkan atau mengkritik orang lain yang ingin menerapkan pendekatan baru.
Sebenarnya, dengan selalu menentang perubahan dan bertahan pada metode lama, mereka malah gagal mendapatkan peluang untuk maju.
Jenis orang seperti itu merasa selalu aman di area nyamannya dan enggan untuk ambil resiko, oleh karena itu mereka lebih condong mengecilkan siapapun yang berusaha berkembang. Hal tersebut menjebak mereka dalam pola pikir sempit serta keadaan statis.
