ITNews
– Tindakan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka yang mencoba alat teknologi tanam padi di sawah, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Minggu (24/5), menarik perhatian masyarakat luas.
Gibran yang dibimbing oleh seorang petani ketika menggunakan mesin tanam padi canggih dengan nama rice transplanter berjalan kedepan, sehingga diyakini telah menekannya sendiri.
Tindakan tanam padi tersebut menjadi sorotan publik usai Gibran mempostingnya di platform media sosial TikTok. Kementerian Pertanian menjelaskan tentang pemakaian rice transplanter, yaitu mesin pertanian canggih untuk menanam padi yang dapat meningkatkan kecepatan, ketepatan, serta efisiensi para petani dalam proses penanaman.
Moch. Arief Cahyono, kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik di Kementerian Pertanian, menyatakan bahwa alat pengimplantasi benih beras ini diciptakan agar dapat menanam bibit padi dengan rapi, tanpa perlu petani berjalan di atas lahan sawah mereka.
“Operator tunggal dapat mengatasi pemasangan tanam di satu hektar sawah hanya dalam lima jam menggunakan mesin ini,” ujar Arief Cahyono pada pernyataannya, Senin (26/5).
Apabila dicomparikannya dengan cara tanam manual, maka penanaman menggunakan mesin rice transplanter cukup memerlukan kira-kira 25-30 orang dan waktu selama dua hari untuk area pertanian yang setara. Dia menyatakan bahwa alat ini tak cuma bisa mengirit waktu serta upah kerja, melainkan juga dapat mencegah biaya operasional menjadi lebih rendah drastis.
Di samping itu, mesin transplantator padi memiliki kelebihan dalam memastikan jarak penanaman tetap rapi. Ini secara langsung menguntungkan pertumbuhan tanaman yang lebih seragam dan meningkatkan produksi hasil panen.
Sebaliknya, perangkat ini juga bersahabat dengan lingkungan karena mampu meminimalisir dampak kerusakan lahan yang disebabkan oleh tekanan kaki saat penplantan secara manual. Terdapat dua macam rice transplanter, yakni tipe yang bisa digerakkan (
walking type
) dan jenis berkendara (
riding type
).
Dalam jenis yang bergerak, operator akan mendirectionalkan peralatan sambil berjalan di bagian belakang mesin. Benih beras disimpan pada rak terpisah dan bisa ditambahkan lagi secara praktis saat proses tanam sedang berlangsung. Sebaliknya, untuk jenis yang dikendarai, operator dapat duduk dan menyetir mesin mirip seperti cara mengendari sebuah kendaraan.
“Athough they have similar mechanisms, this tool offers greater comfort. Both types are equally effective in accelerating and streamlining the planting process, so their use can be adjusted according to conditions and needs at the site,” explained Arief.
Arief Cahyono menyebutkan bahwa saat Wapres Gibran melakukan kunjungan kerja bersama Mentan Amran Sulaiman, mereka memakai alat pindah bibit beras tipe berjalan dengan metode penanaman Jarawo atau Jajar Legowo dan juga menggunkan varietas Unggul Inpari 32 yang dapat memberikan hasil hingga 8-8,5 ton per hektar.
Menurutnya, teknik pertanian Jarwo adalah cara menanam padi di mana dia menjaga jarak tertentu antara baris-baris tanaman dan menciptakan jalur kosong untuk memisahkan mereka. Tujuannya adalah supaya tanaman padi dapat merasakan manfaat dari fenomena tepi, misalnya paparan sinar matahari yang lebih rata.
“Ini menunjukkan bahwa sistem tersebut berhasil meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi ancaman dari hama dan penyakit, serta menyederhanakan tahap pemupukan dan kontrol hama. Karena alasan itulah, teknis penanaman Jarwo dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk bertani padi,” tuturnya.
