Press "Enter" to skip to content

Riset Cisco: Sebagian Besar Perusahaan di Indonesia Kekurangan Persiapan Hadapiancang Ancaman AI

admina 0


JAKARTA, ITNEWS

– Perusahaan penyedia peralatan dan solusi jaringan asal Amerika Serikat (AS), Cisco merilis laporan terbaru mengenai indeks kesiapan perusahaan di dunia menghadapi berbagai ancaman siber.

Laporan ini adalah hasil penelitian yang disampaikan kepada kira-kira 8.000 eksekutif bisnis di seluruh dunia, termasuk mereka yang ada di Indonesia dan berasal dari beragam sektor usaha. Di antara responden tersebut, terdapat kurang lebih 158 orang wakil pimpinan perusahaan asal Indonesia.

Dalam laporan berjudul “Cybersecurity Readiness Index 2025”, diketahui bahwa baru 11% dari perusahaan-perusahaan di Indonesia menurut penilaian Cisco telah siap terkait keamanan cyber.
(mature)
Mengatasi Ancaman Siber, Termasuk Yang Menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Ini berarti sebagian besar bisnis di Indonesia belum menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan kecerdasan buatan.

Artinya, sekitar 17 perusahaan di Indonesia dinilai mempunyai sistem keamanan yang kuat dalam menghadapi ancaman cyber modern beragam.

Direktur Keamanan Siber Cisco untuk ASEAN, Koo Juan Huat, menunjukkan bahwa terdapat berbagai alasan yang menjadi penyebab tingkat persiapan keamanan siber di Indonesia masih rendah.

Satu di antaranya adalah penggunaan serta pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan, khususnya AI generatif (Gen AI), yang semakin meluas dan rumit.

Ini dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut merasa kesulitan dalam mencapai tujuan mereka.
struggle
Terlepas dari peningkatan kompleksitas dan evolusi beserta dengan ancaman yang dihadirkan oleh AI terhadap sistem keamanan mereka,” ungkap Juan saat ditemui
KompasTekno
di kantor Cisco Indonesia di Capital Place, Jakarta Selatan, pada hari Senin (26/5/2025).

Lebih jauh, 91% responden kami di Indonesia menyatakan bahwa organisasi mereka telah menangani kasus keamanan cyber yang mencakup teknologi AI selama tahun lalu. Fenomena ini semakin menjadi akibat meningkatnya serangan para peretas.
(hacker)
memulai penggunaan kecerdasan buatan untuk melaksanakan tugasnya,” tambah Juan.

Ini, tambah Juan, juga diperburuk oleh pandangannya.
(midnset)
Mayoritas perusahaan (73% responden) di Indonesia sangat percaya bahwa sistem keamanan mereka dapat menghadapi ancaman cyber modern dengan efektif.

Sebaliknya, hanya 5% responden yang yakin bahwa ancaman dari kecerdasan buatan merupakan hal yang sulit untuk diproteksi atau dikelola oleh organisasi mereka. Artinya, minimnya pemahaman tentang bahaya AI terus menjadi hambatan di Indonesia.

Salah satu faktor yang berkontribusi pada ketidakmampuan perusahaan di Indonesia dalam menangani ancaman cyber modern adalah seringnya perangkat korporasi digunakan untuk mengakses jaringan tidak aman dan juga minimnya jumlah tenaga kerja ahli di sektor cybersecurity.

“Kira-kira 92% peserta survei di Indonesia menyatakan bahwa mereka merasakan kendala dalam memantaunya jaringan yang terkoneksi dengan peralatan milik perusahaan, akibatnya tingkat keamanannya menjadi sulit dipastikan,” papar Direktur Utama Cisco Indonesia, Marina Kacaribu pada kesempatan tersebut.

Selanjutnya, struktur organisasi perusahaan yang rumit merupakan hambatan bagi 84% peserta survei. Di sini, kompleks berarti sebuah perusahaan menggunakan berbagai macam sistem keamanan yang tidak saling terintegrasi, hal ini bisa memperlambat proses saat terjadi insiden tertentu.

“Lalu 95% peserta respon asal Indonesia menyebutkan pula bahwa kurangnya bakat dalam ranah keamanan cyber masih jadi hambatan yang perlu dituntaskan berkaitan dengan pengendalian ancaman cyberspace modern,” tambah Marina.


Terapkan “Zero Trust”

Terkait kurangnya
awareness
Mengenai bahaya dan risiko ancaman keamanan siber modern, Cisco menawarkan lima rekomendasi yang dapat diterapkan oleh perusahaan di Indonesia.

Pertahanan awal yang dapat diterapkan ialah dengan menyebarkan pengetahuan mengenai “Zero Trust”. Ini merujuk pada suatu budaya proteksi terhadap berbagai jenis akses.
password
, kode OTP, dsb) serta tidak menyerahkannya kepada siapa pun, termasuk kolega kerja.

“Prioritas utama bagi perusahaan ketika memulai adalah menerapkan budaya Zero Trust dalam organisasi mereka. Ini berarti tidak boleh ada kepercayaan kepada siapa pun mengenai akses ke sistem perusahaan,” ungkap Marina.

Kedua, Anda harus menerapkan sistem keamanan yang didasarkan pada pemeriksaan identitas di semua perangkat milik perusahaan yang terhubung dengan jaringan utama.

Berikutnya, perusahaan juga harus mengoptimalkan keamanan infrastruktur mereka guna memperkokoh
network resilience
serta menerapkan taktik dan fasilitas keamanan terbaru bagi informasi yang sedang dikelola
cloud
.

“Yang terakhir ialah perusahaan dapat membangun serta menggunakan teknologi AI agar dapat dioptimalkan, sementara teknologi ini juga sanggup menangkap bermacam-macam ancaman keamanan dalam perusahaan tersebut,” jelas Marina.

Pada upaya melindungi struktur dasar sebuah perusahaan, Cisco menawarkan layanan bernama Cisco Security Cloud.

Jenis layanan yang disajikan melalui platfom atau aplikasi ini menawarkan tiga aspek proteksi penting yakni Breach Protection guna mengamankan dari serangan peretas, User Protection untuk menjaga perangkat para penggunanya, serta Cloud Protection demi memastikan keselamatan data mereka.

Platform ini dapat mengawasi seluruh aspek keamanan melalui beragam parameter.
endpoint
, dimulai dari para pengguna sampai ke sistem, dan bisa memberikan kenyamanan kontrol atas semua komponen infrastruktur keamanan pada sebuah platform agar perusahaan tetap terlindungi,” jelas Juan.


Mengenai Indeks Kesiapan Keamanan Siber Cisco 2025

Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 adalah sebuah studi yang melibatkan 8.000 eksekutif perusahaan dari beragam sektor seperti teknologi, keuangan, dan manufakturing di seluruh dunia, dengan Indonesia juga ikut terlibat dalam survei ini.

Survei ini disebar secara
online
pada Januari-Februari 2025 dan dilakukan dengan metode
double
blind.
Ini berarti bahwa baik Cisco maupun responden tidak mengetahui identitas satu sama lain; yaitu, siapa yang melakukan pengumpulan data atau siapa yang melengkapi kuesioner tersebut.

Dalam survei ini, Cisco menilai kesiapan perusahaan atas potensi ancaman keamanan siber melalui lima pilar yang masing-masing memiliki porsi penilaian (total 100 persen). Kelima pilar ini adalah sebagai berikut:

  1. Identity Intelligence (25 persen): kemampuan perusahaan untuk mengelola dan melindungi identitas pengguna dan akses ke sistem.
  2. Keandalan Mesin (20%): kapabilitas perusahaan dalam memastikan bahwa alat-alat mereka dilindungi serta tersambung ke jaringan yang aman.
  3. Kekuatan Jaringan (25%): Kemampuan bisnis dalam menjamin bahwa sistem dan strukturnya tetap terlindungi serta beroperasi dengan baik saat menghadapi kejadian atau hambatan tertentu.
  4. Reinforcing Awan (15%): kapabilitas perusahaan dalam mengamankan jalannya proses pemrosesan dan arus data yang terjadi di dunia maya.
    (cloud)
    .
  5. Penguatan AI (15%): kapabilitas perusahaan dalam menyatukan teknologi AI guna memperbaiki pengidentifikasian, tanggapan, serta penyesuaian terhadap serangan cyber.

Berdasarkan evaluasi tersebut, Cisco kemudian merangkum skor total dan memposisikan sebuah perusahaan dalam salah satu dari empat kelompok, yakni Matang (lebih dari 70%), Progresif (41-59%), Pembentuk (11-40%), dan Pemula (kurang dari 10%).

Berdasarkan hasil survey tersebut, Cisco menyatakan bahwa cuma 9% dari perusahaan termasuk dalam kategori Mature. Di sisi lain, 61% berada pada tahap Formative, 26% ada di tingkat Progressive, dan sisanya sebesar 4% masih tergolong sebagai pemula atau Beginner.

Laporan penuh dari hasil penelitian Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 dapat dilihat di tautan berikut ini.
berikut ini
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *