Internet dan Informasi
– Hidup kita berada dalam zaman bebas untuk mencari pujian, yang akhirnya sering kali menjadi suatu keperluan bagi banyak orang. Sama seperti menunjukkan kemakmuran, kisah cinta antara pasangan, ataupun gambaran tentang sebuah keluarga bahagia di platform-media sosial.
Memang benar bahwa puji-pujian memiliki peranan signifikan dalam menaikkan rasa percaya diri seseorang serta membuat mereka merasa bahwa prestasi mereka dilihat oleh orang lain. Akan tetapi, bergantung sepenuhnya pada pengakuan dari luar juga tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang tepat.
Demikian juga terdapat individu yang malah merasa tidak nyaman ketika mendapatkan pujian, sebagaimana diambil dari situs web Small Business Bonfire pada hari Ahad (20/4), mereka kebanyakan memiliki 7 bentuk ikatannya tersebut:
1. Takut akan kerentanan
Kamu mungkin pernah melihat bagaimana beberapa individu menarik diri saat mendapat pujian bahkan yang sangat kecil. Hal ini tidak disebabkan oleh sifat rendah hati, tetapi lebih kepada rasa takut mereka terhadap kerentanan.
Vulnerabilitas, dalam hal ini, tidak berkaitan dengan ancaman jasmani. Justru ia berhubungan dengan eksposur emosi, namun lebih pada ketakutan akan pembukaan diri dan pemaparan asli dari siapa kita sesungguhnya.
Orang yang merasa tidak nyaman ketika diberi puji cenderung memiliki rasa takut dasar terhadap kerentanan. Ketakutan ini bisa berasal dari perasaan bahwa menerima pujian berarti membutuhkan penghargaan ekstra, hal yang mereka pandang sebagai kekurangan.
Takut atas ketidaksempurnaan ini sering kali menjadi ikatan umum yang dialami oleh individu saat mereka menolak pujian. Seperti ada dinding transparan yang menghalangi mereka dari kepercayaan diri tentang harga dirinya sendiri.
2. Harga diri rendah
Kita semua pernah menjalani momen ketika kita merasa kurang dengan diri kami sendiri. Namun, untuk beberapa individu, emosi tersebut menjadi tameng yang terus-menerus ada.
Berikut ini merupakan bentuk ikatan emosional yang sering terlihat pada individu dengan harga diri rendah dan kesulitan dalam menerima penghargaan. Mereka cenderung mencurigai niat dari pujian tersebut serta meragukan keberartian dirinya sendiri.
3. Gaya ikatan yang menentang aturan
Psikolog sudah menemukan tipe ikatan yang disebut evasif. Mereka yang memiliki pola pikir seperti ini sangat menjunjung tinggi kebebasan pribadi mereka.
Seringkali mereka memandang ikatan serta kedekatan emosi sebagi penghalang bagi kebebasan. Ironisnya, model ketergantungan yang mengecilkan hal tersebut bisa menjadikan pujian berubah menjadi semacam ancaman.
Oleh karena itu, saat mereka mengabaikan atau menolak pujian, hal tersebut tidak mencerminkan individu yang memberi puji. Sebaliknya, ini merupakan mekanisme alami bagi mereka untuk mempertahankan jarak emosi serta menjaga kemerdekaannya.
4. Ketakutan terhadap ekspektasi yang besar
Mendapatkan pujian bisa berarti bahwa Anda telah mencapai suatu standar dalam performa kerja atau tingkah laku, dan ini kadang membuat orang merasa cemas untuk tetap menjaga prestasi tersebut.
Beberapa orang merasa tidak nyaman ketika mendapat pujian karena khawatir hal itu akan menciptakan ekspektasi yang lebih besar, yang kemudian mungkin sulit untuk dipenuhi di waktu berikutnya.
Maka dari itu, mereka menolak penghargaan agar terbebas dari tekanan untuk memenuhi ekspektasi tersebut.
5. Pengalaman masa lalu
Berkembang menjadi orang dewasa kerap dihargai karena capaian pendidikan mereka. Orang-orang yang cenderung merasa gugup saat mendapat puji-puja mungkin pernah mengalaminya juga. Sejumlah besar pengalaman sebelumnya, khususnya pada periode pembentukan diri kita, bisa sangat mempengaruhi bagaimana kita menafsirkan dan merespons pujian tersebut.
Apabila pujian pernah digunakan dengan cara manipulative atau berdasarkan syarat tertentu pada masa lampau, maka tidak mengherankan jika kita kadang-kadang masih merasa cemas dengannya. Yang sebenarnya penting adalah persepsi negatif yang telah terbentuk dari pengalaman tersebut, dan bukan soal pujian itu sendiri.
6. Perfeksionisme
Perfeksionisme bisa berdampak ganda. Sebuah sisi, hal ini mungkin memacu individu meraih prestasi luar biasa. Akan tetapi di sisi lainnya, perfeksionisme juga cenderung menjadikan mereka terlalu kritis kepada dirinya sendiri.
Orang-orang yang cenderung perfeksionis umumnya menetapkan harapan yang amat tinggi bagi dirinya sendiri. Mereka bertekad mencapai sempurna dan segala sesuatu di bawah kriteria tersebut akan dirasakan sebagai sebuah kekalahan.
Saat diberi puji, mereka mungkin merasa, “Aku dapat melakukannya jauh lebih baik,” atau “Tidak seharusnya aku diapresiasi seperti ini.” Di dalam benak mereka, standar mereka masih belum cukup tinggi dan karenanya pujian tersebut tampak tak layak untuk dirinya.
Usaha berkelanjutan menuju keperfeksian dan sulitnya menyadari capaian diri sendiri bisa menjadikan pujian terasa kurang pas atau bahkan tak tepat.
7. Takut akan keintiman
Kunci dari berbagai respons negatif terhadap pujian seringkali berasal dari rasa takut akan kedekatan emosional. Pujian menghasilkan saat-saat hubungan, di mana seseorang harus mendengarkan dan merespons hal-hal positif tentang dirinya sendiri dari orang lain.
Untuk orang yang cemas terhadap kedekatan, hal tersebut dapat sungguh membuat tidak nyaman. Mereka berpotensi menolak, melupakan, atau merendahkan komplimen demi tetap menjaga jarak emosional.
Menurut informasi yang diambil dari situs Cari Ustadz pada hari Minggu (20/04), merespons puji dengan perspektif psikologi Islam diperbolehkan selama tidak melewati batas wajar.
Hormatilah fakta saat memberikan pujian dan jangan melampaui batas apabila hal tersebut dapat merugikan, sebab ini mungkin akan mengubah semangat orang lain.
